RSS

Wisata Batusangkar

1. Istano Basa Pagaruyung

Batusangkar.1

 

Istano Basa yang lebih terkenal dengan nama Istana Pagaruyung, adalah sebuah istana terletak di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar Sumatra Barat. Istana ini merupakan obyek wisata budaya yang terkenal di Sumatera Barat.

Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatra Barat (waktu itu Harun Zain). Bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya. Pada akhir 1970-an, istana ini telah bisa dikunjungi oleh umum. Pada tanggal 27 Februari 2007, Istano Basa mengalami kebakaran hebat akibat petir yang menyambar di puncak istana. Akibatnya, bangunan tiga tingkat ini rata dengan tanah. Ikut terbakar juga sebagian dokumen, serta kain-kain hiasan. Diperkirakan hanya sekitar 15 persen barang-barang berharga ini yang selamat. Barang-barang yang lolos dari kebakaran ini sekarang disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Biaya pendirian kembali istana ini diperkirakan lebih dari Rp 20 miliar. Harta pusaka Kerajaan Pagaruyung sendiri disimpan di Istano Silinduang Bulan, 2 kilometer dari Istano Basa.

2. Istano Silinduang bulan

Batusangkar.2

Satu lagi objek wisata yang bercerita tentang asal usul dan sejarah panjang orang Minangkabau terdapat di Kabupaten Tanah Datar. Objek wisata ini bernama Istana Silinduang Bulan. Terpaut hanya 2 kilometer dari Istana Pagaruyung, Istana ini menempati tapak istana lama yang terbakar pada 1966. Istana Silinduang Bulan berada di nagari Pagaruyung, kecamatan Tanjung Emas, sekitar 5 kilometer dari Batusangkar ibu kota Kabupaten Tanah Datar. Istana yang dibangun pada akhir 80-an ini dibangun sebagai tempat tinggal para keturunan raja yang pernah bertahta di Pagaruyung. Pendirian Istana Silinduang Bulan tidak bisa lepas dari penyebaran dan perkembangan Islam di Sumatera Barat. Menurut sejarah, Silindung Bulan pertama kali dipakai untuk menamai Istana Kerajaan Pagaruyung baru yang didirikan di lokasi sekarang pada 1550. Pendirian istana dan penamaan ini bertujuan untuk menandai dimulainya perhitungan tahun menurut kalender hijriah dan berlakunya secara resmi hukum syariat Islam di Kerajaan Pagaruyung. Sebelumnya, kerajaan Pagaruyung diketahui menganut agama Budha Tantrayana, seperti yang terlihat pada arca dan artefak yang ditemukan di wilayah itu. Rapuh dimakan usia, istana ini direnovasi dan selesai pada 1750. Ketika Perang Padri berkobar, istana ini rata dengan tanah setelah dibakar pada 1821. Oleh Yang Dipertuan Gadih Puti Reno Sumpu, Silinduang Bulan kembali didirikan pada 1869 dan kembali menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Pagaruyung. Namun lagi-lagi istana ini terbakar pada 3 Agustus 1961.

Tak ingin memindahkan letak pancang utama yang telah dipilihkan nenek moyang, Istana Silinduang Bulan dibangun lagi pada 1987 dan selesai pada Desember 1989. Semua pembangunan istana ini dibangun murni dengan biaya pribadi keluarga. Saat ini pengunjung bisa melihat dari dekat keindahan serta keagungan arsitekturnya. Istana Silinduang Bulan memiliki ukuran 28 x 8 meter. Menurut kategorisasi rumah Gadang, Istana Silinduang Bulan memiliki gaya arsitektur yang disebut Alang Babega. Atapnya berbentuk gonjong (tajuk) yang berjumlah tujuh buah. Seluruh bangunan Silinduang Bulan memiliki 9 ruangan. Di sisi kiri dan kanan bagian depan rumah terdapat sepasang rangkiang, bangunan yang berfungsi sebagai lumbung padi, yang dinamai Si Bayau-bayau dan Si Tinjau Lauik. Di bangunan utama terdapat empat kamar tidur atau bilik, Anjuang Emas di sisi kanan, Anjuang Perak di sisi kiri, dan sebuah dapur. Kedua anjuang berfungsi sebagai “Kedudukan Rajo” atau tahta raja. Anjuang Emas didedikasikan raja, yang bergelar “Rajo Tuo” dan Anjuang Perak untuk putra mahkota, yang bergelar “Tuan Gadih”. Terdapat lebih dari 200 motif ukiran yang dipahat di sisi luar permukaan bangunan Istana Silindung Bulan. Warna yang mendominasi ukiran-ukiran tersebut adalah merah, kuning, hitam dan coklat. Bagian interior istana ditutupi dengan kain tabir dan langik-langik yang dipenuhi sulaman benang emas dalam berbagai motif. Walaupun Kerajaan Pagaruyung sudah tidak ada lagi, Silinduang Bulan tetap menjadi istana bagi budaya Minangkabau. Selain sebagai tempat tinggal keturunan para raja, istana ini berfungsi sebagai pusat adat bagi masyarakat Minangkabau. Museum ini juga menyimpan berbagai peninggalan dan pusaka bersejarah yang terkait dengan sejarah panjang Kerajaan Pagaruyung.

3. Batu Angkek-angkek

Batusangkar.3

 

Batu Angkek-angkek merupakan obyek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri, terutama yang ingin mengetahui apakah suatu niatnya akan tercapai atau tidak. Jika niat itu tercapai maka batu dengan mudah bisa diangkat ke pangkuan, tapi sebaliknya jika tidak bakal tercapai maka batu akan terasa sangat berat dan tidak akan bergeser dari tempatnya. Menurut fakta yang ada di bagian belakang batu tersebut tertulis dalam bahasa Arab kata Allah dan Muhammad. Para pengunjung sebelum mengangkat dan melafadzkan niatnya disarankan suci atau berwudhuk bagi yang beragama Islam. Salah seorang pengunjung mengatakan, telah beberapa kali datang ke obyek wisata tersebut dan tanda-tanda ketika mengangkat batu Angkek-angkek banyak terbukti kebenarannya,namun pewaris batu mengingatkan agar jangan mensekutukan karena batu hanya sebagai media atau petunjuk dari Allah.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: